SINAR DEMPO

Entries categorized as ‘Cerita’

Sup Miso, yumie……

May 2, 2008 · Leave a Comment


Dalam penyajian makanan Jepang, biasanya Sup Miso (miso shiru}dihidangkan bersama nasi putih sebagai menu sarapan pagi di banyak rumah-rumah di Jepang. Pada umumnya sup miso biasanya dimakan di rumah, walapun ada juga sup miso yang dihidangkan di warung atau restoran tradisional Jepang (”ryotei”).

Bahan dasar adalah dashi ditambah isi sup berupa sedikit makanan laut atau sayur-sayuran, dan diberi miso sebagai perasa. Sup miso dinikmati dengan mengangkat mangkok sup dan meminum kuahnya, sedangkan isi sup dimakan menggunakan sumpit.

 

Sup miso merupakan masakan sangat sederhana yang sangat mudah disiapkan dalam waktu singkat, bahan-bahannya pun hanya berupa kaldu dari katsuobushi, sedikit isi sup, dan miso. Walaupun sup miso adalah masakan paling sederhana, rasa yang dihasilkan bisa berbeda-beda tergantung pada jenis miso yang digunakan untuk sup, cara mengambil kaldu dari katsuobushi dan keterampilan orang yang membuatnya.

 

Pada kebudayaan Jepang yang menjadikan nasi atau nasi dari berbagai jenis Padi-padian sebagai makanan utama, sup miso mempunyai peran penting sebagai makanan pendamping yang paling utama. Pada umumnya, makanan utama sehari-hari orang Jepang sejak zaman dulu disebut nihongo ichijū issai yakni satu set berupa nasi dengan sup seperti sup miso dan satu jenis lauk.

 

Kegunaan Sup Miso

Di dalam budaya makan Jepang yang biasanya rendah protein, sup miso berfungsi sebagai penambah nafsu makan, sumber protein, dan sumber garam. Sup miso berbeda fungsinya dengan sup dalam budaya makan Eropa. Di dalam budaya Jepang, sup miso bukan dipakai sebagai kuah untuk makan nasi, berbeda dengan makan Eropa yang menempatkan roti adalah makanan utama sedangkan sup dibuat untuk menikmati roti yang sudah agak keras.

 

Miso adalah bumbu masak yang aromanya mudah hilang jika lama dimasak dengan suhu tinggi, sehingga api harus segera dimatikan pada saat sup mulai mencapai titik didih. Sup miso mempunyai berbagai macam nama bergantung pada isi, misalnya Kenchin-jiru (isi sayur-sayuran saja), Butajiru atau Tonjiru (isi sayur-sayuran dan daging babi, Sampe-jiru (isi ikan Salmon asin) dan sebagainya. Masakan Jepang yang disebut Nabe walaupun ditambah dengan miso tidak dianggap sebagai sup miso.

 

Sejarah

Konon sup miso sudah dikenal orang Jepang sejak zaman Muromachi. Pada mulanya sup miso adalah makanan kampung yang dinikmati oleh petani, tapi kemudian menyebar ke berbagai lapisan masyarakat di seluruh Jepang menjadi menu yang tak boleh ketinggalan.

 

Miso dan kaldu untuk sup

Di Jepang, jenis miso yang digunakan untuk sup miso bergantung pada selera orang yang tinggal di daerah itu. Sebagian besar penduduk Prefektur Nagano menggunakan Shinshu miso, penduduk Prefektur Aichi dan Prefektur Gifu menggunakan Hatchomiso, sedangkan penduduk Kyoto menggunakan Shiro miso. Sama halnya dengan ungkapan “kecap saya paling no.1,” orang Jepang sangat membanggakan miso produksi kampung halamannya yang selalu dianggap paling enak nomor satu.

 

Kaldu untuk sup yang disebut ”dashi”, bisa dibuat dari konbu, ikan teri kering yang disebut niboshi dan katsuobushi. Cara membuat kaldu untuk sup bisa berbeda-beda tergantung pada orang yang memasak, ada orang yang membuat sup miso hanya dengan menggunakan katsuobushi, tapi ada juga orang yang menggunakan saba bushi bersama berbagai macam sumber kaldu, dan juga bumbu masak produksi pabrik.

 

Pada umumnya, miso yang dibutuhkan untuk satu mangkok sup miso sebanyak 15 gram, walaupun semuanya tergantung pada selera orang yang mau meminumnya. Perbandingan antara sup dan kadar garam biasanya sekitar 99 : 1.

 

Isi sup miso

Isi untuk sup sangat bervariasi tergantung pada daerah dan selera.

  • Makanan laut, seperti: rumput laut (”wakame”), berjenis-jenis kerang, kepiting, udang karang, dan ikan,
  • Semua jenis sayur-sayuran dan bahan makanan produksi pabrik, seperti lobak, Enokitake,  daun bawang, kentang, bawang bombay, labu parang, aburage, tahu, natto, dan tauge.

 

Categories: Cerita

Piknik Karyawan Sinar Dempo 2008

April 1, 2008 · Leave a Comment

Mekar sari

Taman Wisata Mekarsari, Jonggol 

Pada tanggal 30 Maret 2008, Sinar Dempo mengadakan piknik tahunan. Acara ini dibuat setiap tahunnya untuk lebih menambah akrab sesama karyawan, juga menjadikan karyawan menjadi lebih segar karena adanya perubahan suasana. Dengan demikian diharapkan kinerja toko menjadi lebih baik. 

Berangkat dari Sinar Dempo yang berada di Melawai VIII dengan rencana awal adalah pada pk. 7.00, pagi itu sempat tertunda karena ban salah satu mobil kami mengalami kebocoran sehingga perlu ditambal. Oleh sebab itu maka kami baru mulai jalan dari Melawai pada pk. 8.15 menuju ke Tama Wisata Mekarsari di Jonggol. 

Setibanya di Mekarsari, kita berkumpul untuk foto-foto di depan papan nama Mekarsari. Untuk mengelilingi kompleks taman wisata tersebut tersedia kereta dengan tiket Rp. 10.000,-  yang mengantarkan ketiap-tiap perhentian tanpa perlu membeli karcis lagi untuk ke tempat perhentian berikutnya. Sepanjang jalan pengemudi atau ada juga pemandu wisata menjelaskan tentang lokasi dan tempat yang kita lewati. 

Tiba di danau kami semua turun untuk naik perahu mengelilingi danau tersebut dengan menggunakan perahu motor  tempel. Dengan uang Rp. 10.000,- kita dapat mengelilingi danau tersebut dan melihat pemandangan yang indah dan menawan hati, waaahhhhh kita jadi lupa semua kepenatan Jakarta yang selalu sibuk dan macet. Para karyawan saling senda gurau di atas perahu sedangkan sebagian lagi menikmati makanan ringan yang telah dibagikan sebelumnya. 

Sekembalinya kita ke darat kita beristirahat di pinggir danau sambil berteduh dibawah pohon yang rindang. Di area tersebut ada tempat untuk ketangkasan (out bound) dan banyak orang yang sedang menikmati ada ketangkasan di tempat itu. Cuaca cukup panas saat itu sehingga kami sangat menikmati rujak buah dengan bumbu gula merah yang pedas. Hmmmm nyam nyam……. enak banget nih rujaknya. Anak-anak yang ikut juga menikmati sekali bermain pada permainan anak yang ada disana, sedangkan orang tua beristirahat di bawah pohon sambil ngobrol dan bercanda. 

Setelah mendekati makan siang, kami keluar dari Mekarsari untuk makan siang. Di jalan Trans Yogi, kami memilih rumah makan Ayam Goreng Ibu Suharti yang menyediakan ayam goreng kremes dan ikan gurame kremes. Waaahhhh……. anak-anak laki rupanya sudah kelaparan, dalam sekejap makanan yang berada di tempat mereka licin tandas. Setelah kenyang dan hati riang kami pulang kembali ke Jakarta. Perjalannan pulang disertai macet yang selalu terjadi pada hari Minggu, tapi tak apalah karena kami bersama-sama menikmati perjalanan kali ini.  

Sampai berjumpa tahun depan……… 

Cerita ini juga ada pada http://wiramediaselaras.blogspot.com

Categories: Cerita

Wasabi, si pedas penyegar ikan

March 14, 2008 · Leave a Comment

Wasabi tubeWasabi asli

Makan Sashimi kalau tidak ditemani dengan Wasabi belum lengkap rasanya. Wasabi (Wasabia japonica, sinonim: Eutrema japonica, bahasa Inggris: Japanese Horseradish) adalah tanaman asli Jepang dari suku kubis-kubisan (Brassicaceae). Parutan rimpang (rizoma) yang juga disebut wasabi. Selain itu Wasabi sebagai penyedap masakan Jepang, juga dipakai sebagai teman makan sushi, soba, dan ochazuke. Daun, tangkai, dan rizoma memiliki aroma harum, sekaligus rasa tajam menyengat hingga ke hidung seperti mustar, tapi bukan pedas di lidah seperti cabai.

Unsur kimia yang menjadikan wasabi memiliki rasa menyengat (pedas) adalah isotiosianat (6-methylthiohexyl isothiocyanate, 7-methylthioheptyl isothiocyanate, dan 8-methylthiooctyl isothiocyanate). Senyawa ini bersifat antimikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga irisan ikan segar selalu dimakan bersama wasabi.

Budidaya wasabi dimulai sekitar tahun 1596-1615 di hulu Sungai Abe, Utōgi, Prefektur Shizuoka. Pada waktu itu, penduduk desa Utōgi mencabut wasabi yang tumbuh liar dan memindahkannya ke lahan di sekitar mata air yang terletak di Idōgashira. Budidaya wasabi di Idōgashira menjadi usaha budidaya wasabi yang pertama di Jepang. Hasilnya dipersembahkan kepada Tokugawa Ieyasu yang tinggal di Istana Sumpu. Menurut cerita, Ieyasu sangat menyukai rasa wasabi hadiah penduduk desa, dan begitu gembira dengan bentuk daun wasabi yang mirip lambang keluarga klan Tokugawa. Menurut cerita lain, penyebaran wasabi ke seluruh Jepang dimulai di pertengahan zaman Edo dari bibit tanaman wasabi yang diterima Itagaki Kanshirō setelah mengajarkan budidaya shiitake kepada penduduk Utōgi. 

Selain wasabi segar, di pasaran tersedia bubuk wasabi dalam bubuk wasabi kemasan kaleng, dan wasabi kemasan tube. Di Jepang, daun dan bunga wasabi digoreng sebagai tempura, dan wasabi digunakan sebagai perasa untuk berbagai produk makanan ringan hingga es krim.

Rozima wasabi diparut dengan alat parut dari logam (oroshigane). Walaupun demikian, sebagian kecil orang berpendapat aroma wasabi tidak hilang dan terasa lebih enak bila diparut dengan alat parut tradisional dari kulit ikan hiu. Wasabi hanya diparut seperlunya saja sebelum dimakan, karena aroma wasabi hilang di udara terbuka. Rasa pedas hingga keluar air mata merupakan kenikmatan tersendiri bagi penikmat wasabi. Anak-anak yang belum terbiasa, biasanya memakan sushi yang tidak diberi wasabi (bahasa Jepang: sabinuki).

 Rizoma wasabi berharga mahal dan metode pengawetannya sulit, sehingga bubuk wasabi dan pasta wasabi dalam tube digunakan sebagai pengganti. Bubuk wasabi dan wasabi dalam tube sering dibuat dari bahan pengganti berupa lobak, dicampur rizoma Armoracia rusticana (bahasa Inggris: horseradish), dan bahan pewarna makanan. Bubuk wasabi kemasan kaleng dicampur dengan air untuk menghasilkan pasta wasabi yang siap santap.Komposisi bubuk wasabi dan wasabi tube bergantung kepada merek dan produsen. Bila produk mengandung kadar wasabi asli lebih dari 50%, maka di kemasannya ditulis, Hon Wasabi (wasabi asli) atau Hon wasabi shiyō yang artinya menggunakan wasabi asli. Definisi “wasabi asli” bisa berarti bagian rizoma atau bagian lain dari tumbuhan (daun dan tangkai). Bila pasta wasabi mengandung kurang wasabi kurang dari 50%, maka pada kemasan ditulis sebagai Hon wasabi iri artinya mengandung wasabi asli.

Categories: Cerita

Blok M, Kebayoran Baru

March 10, 2008 · Leave a Comment

Depan Blok M Plaza

Kebayoran Baru adalah sebuah kecamatan yang terletak di kota Jakarta Selatan. Kecamatan ini sebagian besar merupakan daerah pemukiman, meskipun beberapa bagian juga merupakan daerah pertokoan seperti di Blok M dan pusat bisnis (Senayan Business District, SBD).

 

Kebayoran Baru memiliki satu terminal bus dalam kota di Jakarta yaitu terminal Blok M yang merupakan terminal dari angkutan penumpang jalan raya. Terminal ini merupakan satu-satunya terminal bus di Indonesia yang memiliki tempat pajalan kaki sekaligus pusat perbelanjaan tepat di bawahnya. Dengan sistem tersebut, para penumpang yang akan menggunakan jasa angkutan tidak perlu cemas dengan lalu lalang bus yang bisa membahayakan jiwanya.

 Terminal Blok M merupakan terminal khusus angkutan jarak pendek dan menengah. Tidak ada bus Antar Kota Antar Propinsi yang keluar masuk di terminal ini. Terminal ini juga merupakan titik terakhir dari koridor I TransJakarta (bus dengan jalur khusus) dengan trayek Blok M - Beos Kota. 

Categories: Cerita

Kyoto kota berjuta kenangan

March 10, 2008 · Leave a Comment

Kinkakuji

Kyoto merupakan kota berjuta kenangan, mengapa disebut demikitan ? Kota yang terletak di Pulau Honshu, Jepang ini merupakan bagian dari daerah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto memiliki banyak situs bersejarah dan merupakan ibu kota Prefektur Kyoto. 

Ibu kota istana (tojō) bernama Heian-kyō ditetapkan sebagai ibu kota pada tahun 974. Sebagai ibu kota (miyako), Heian-kyō menjadi pusat pemerintahan dan budaya Jepang. Pada masa itu, ibu kota disebut kyō no miyako yang selanjutnya berubah menjadi Kyoto. Di zaman dulu, Kyoto juga disebut Kyōraku, Rakuchū, atau Rakuyō. Penamaan seperti ini mengikuti kebiasaan di Tiongkok yang memiliki ibu kota di Rakuyō (Luoyang).

Meskipun mengalami banyak perang, kebakaran, dan gempa bumi pada saat menjadi ibu kota di abad ke-11, Kyoto selamat dari pemboman pada perang dunia II. Memiliki sekitar 2000 kuil Shinto dan Budha, ditambah lagi dengan istana, taman, dan peninggalan arsitektur lainnya, Kyoto dikenal sebagai salah satu kota paling terjaga budayanya di Jepang. Beberapa kuil di Kyoto yang terkenal di seluruh Jepang antara lain Kiyomizu-dera, Kinkaku-ji, Ginkaku-ji, dan Ryoan-ji. Heian-Jingu, sebuah kuil Shinto, didirikan pada tahun 1895 untuk merayakan keluarga kerajaan yang untuk pertama dan terakhir kalinya tinggal di Kyoto.

Warisan sejarah Kyoto kuno merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Yang termasuk di dalamnya antara lain Kuil Kamo (Kami dan Shimo), Kyō-ō-Gokokuji (Tō-ji), Kiyomizu-dera, Daigo-ji, Ninna-ji, Saihō-ji (Kokedera), Tenryū-ji, Rokuon-ji (Kinkaku-ji), Jishō-ji (Ginkaku-ji), Ryōan-ji, Hongan-ji, Kōzan-ji dan Istana Nijo, yang dibangun di masa Keshogunan Tokunaga. Beberapa tempat yang berada di luar Kyoto juga dimasukkan dalam daftar.

 Museum Manga Internasional Kyoto juga berada di kota ini.

Categories: Cerita

Sashimi Makanan Segar

March 9, 2008 · Leave a Comment

Sashimi Makanan Segar 

Siapa tidak kenal Sashimi ?
Jika anda penggemar makanan Jepang, pasti tahu yang satu ini, adalah makanan laut dengan kesegaran prima yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap seperti Kecap asin, parutan jahe dan wasabi. Makanan laut segar seperti ikan, kerang dan udang karang dihidangkan dalam bentuk irisan kecil yang mudah dimakan, sedang udang berukuran kecil ada yang hanya dikupas kulit dan dibuang kepalanya saja.

Tsuma adalah sebutan untuk bahan makanan penyerta yang bisa berupa lobak yang dipotong panjang-panjang dengan ukuran sangat halus, daun berwarna hijau yang disebut Oba (Aojizo) atau rumput laut seperti Wakame dan Tosakanori. Sashimi juga berarti menikmati sesuatu dalam keadaan mentah, mulai dari potongan mentah daging (Basashi), daging ayam (Torisashi), hati ayam atau hati sapi, sampai pada potongan Konnyaku, Kembang tahu yang disebut Yuba. Di daerah Kansai, sashimi lebih dikenal dengan sebutan O-tsukuri.

Sejarah

Ada pendapat yang mengatakan kebiasaan memakan potongan daging segar tanpa dimasak adalah sama tuanya dengan sejarah manusia, tapi kebiasaan ini bisa berlanjut atau hilang tergantung pada kondisi lingkungan tempat tinggal. Jepang merupakan negara kepulauan dengan hasil laut segar yang dapat dinikmati sepanjang tahun, sehingga kebiasaan menikmati makanan laut segar tanpa dimasak terus berlanjut. Ada juga pendapat yang mengatakan kata Sashimi berasal dari kata Namashishi (daging mentah) atau Namasuki (potongan segar).

Jenis-jenis Sashimi

·Tsugatazukuri : Potongan-potongan ikan disusun di atas tubuh ikan yang dipertahankan bentuknya mulai dari bagian kepala hingga ekor. Sashimi jenis ini kebanyakan hanya dinikmati pada kesempatan istimewa.

·Ikezukuri : Tsugatazukuri dengan ikan hidup yang dijadikan sashimi hanya beberapa saat sebelum dihidangkan.

·Tataki : Potongan ikan yang digarang untuk beberapa saat di atas api sehingga terlihat matang di bagian luar, segar di bagian dalam. Tataki ikan Cakalang (Katsuo) dimakan bersama saus Ponzu, parutan bawang putih dan irisan Daun bawang.

Categories: Cerita